"Sahabat Dalam Kegelapan"
Namaku Davina Antherestya, umurku 16 tahun, dan sekarang aku duduk di kelas XI SMA Negeri 09 Bandung. Orang bilang, masa-masa SMA adalah masa-masa paling indah. Ahh! Siapa bilang? Aku tidak berpikir begitu. Masa SMA itu membosankan, sama saja dengan waktu SMP atau SD. Entah kenapa rasanya, aku belum pernah merasa bahagia. Padahal teman-temanku selalu menyebutku Miss Perfect, mereka bilang aku punya segalanya, uang, kecantikan, dan kedua orang tua yang menyayangiku. Mereka juga bilang aku ini termasuk anak yang pintar disekolah karena selalu masuk dalam peringkat 10 besar. Ya, memang kuakui itu semua benar, tapi aku merasa selalu kurang. Aku merasa hidupku hampa. Aku tak tahu mengapa, apakah memang karena ada sesuatu yang belum bisa kupenuhi atau karena memang hidupku yang terlalu sempurna?
"Dav....makan dulu yuk sayang." Suara lembut mama menyadarkan lamunanku.
"Iya ma, bentar ya." Aku menjawab panggilan mama dan langsung turun ke bawah menuju meja makan.
"Kamu mau makan apa, sayang? Nasi goreng atau roti?"
"Mm...roti aja deh, Ma." Jawabku sambil mengambil roti yang disodorkan mama tadi.
"Susunya jangan lupa diminum ya. Ohya, Dav, kayaknya kamu harus olahraga pagi ini deh." Kata mama yang sontak mengagetkanku.
"Loh, kenapa, Ma?"
"Soalnya mobil yang biasanya nganter kamu tadi mogok, jadi kamu berangkat naik sepeda dulu ya, sayang, lagipula sekolah kamu jaraknya gak terlalu jauh kan?"
"Yaah...yaudah deh, Ma, daripada Davin gak ke sekolah."
*****
Akhirnya aku berangkat ke sekolah dengan mengendarai sepeda. Sepulang sekolah, saat aku sedang mengendarai sepedaku, tiba-tiba handphoneku berdering. Segera, aku mengeluarkan handphone dari sakuku dan membaca sms yang baru saja masuk itu. Ternyata itu sms dari Elsa, teman sebangkuku, karena terlalu berkonsentrasi dengan sms dari Elsa, aku tidak melihat ada seorang gadis yang sedang menyebrang, akibatnya sepedaku pun menabrak gadis itu.
"Aduh...!!" teriak gadis itu yang langsung terduduk diatas asapal.
"Oh my Gosh! Eh..sorry...sorry, kamu gak papa kan?" tanyaku kepada gadis itu, tapi gadis itu hanya terdiam sambil memegangi kakinya.
"Enggak..aku gak apa-apa kok."sahut gadis itu dan kemudian gadis itupun segera pergi.
"Hey..tunggu! Kamu gimana sih? Gak apa-apa gimana, kaki kamu tuh berdarah. Sini aku obatin. Lagipula ini semua kan salahku, maaf ya."kataku yang menyesal atas perbuatanku yang terlalu serius membaca sms.
"Ehhmm...gak papa kok. Ini cuma luka biasa. Ini juga bukan salah kamu kok. Tadi aku-nya yang gak hati-hati."sahut gadis itu lantas tersenyum manis.
"Hmm...rumah kamu mana? Biar aku anter, yukk!"
"Engg...gak usah, rumah aku deket sini kok."
"Udah gak papa, anggep aja ini permohonan maaf aku ya?"
"Oke."
"Eh..oiya kita belum kenalan yah, aku Davina, nama kamu siapa??" tanyaku berusaha untuk ramah sambil berjalan memapah gadis itu yang kakinya masih kesakitan karena ulahku.
"Aku Melody."
"Wah..nama yang bagus. Emm...Melody, aku boleh nanya sesuatu gak?"
"Boleh, mau nanya apa??"
"Kamu kenapa sih pakek kacamata item di siang hari gini? Emangnya gak ganggu penglihatan kamu ya?". Sepertinya pertanyaanku ini menyinggungnya, karena Melody terpekur lama sekali sampai akhirnya ia menjawab.
"Kamu kenapa sih pakek kacamata item di siang hari gini? Emangnya gak ganggu penglihatan kamu ya?". Sepertinya pertanyaanku ini menyinggungnya, karena Melody terpekur lama sekali sampai akhirnya ia menjawab.
#Mau tahu lanjutannya?? stay chun di blog ini:)
To Be Continued....
By:Arina Amalia Putri
nice story:)
BalasHapus