"Sahabat Dalam Kegelapan" (Eps.02)
Pasti sudah pada penasaran kan bagaimana jawaban Melody?? Let's Check it out!
"Hmm...enggak kok. Lagipula pakek kacamata item atau enggak semuanya terlihat gelap bagiku."
Aku terkesiap mendengar kata-kata Melody barusan. Apakah gadis ini buta?
"Hah? Mmm...maksud...kamu?"
"Aku buta." Kata Melody yang benar-benar membuat jantungku miris seperti saat mama mengiris daging sapi di dapur. Aduh kok aku jadi keingetan semur daging sapi mama yah. Ih...kok jadi ngomongin makanan sih.
"Sorry, Mel..aku gak maksud untuk..."
"Udah gak apa-apa kok, Dav." Melody hanya tersenyum pahit.
Keadaan pun hening sejenak. Setelah beberapa meter berjalan kami pun tiba di sebuah rumah.
"Ini rumah aku. Ayo masuk, Dav!", ujar Melody yang membuyarkan lamunanku. Aku merasa kagum dengan rumah Melody. Tenyata gadis ini adalah seorang penjual bunga. Bagian depan rumahnya digunakan sebagai tempat kios bunga miliknya yang bernama "Melody Florist". Di kios kecil ini terdapat berbagai jenis bunga mulai dari bunga matahari, bunga anggrek, anyelir, dan lainnya lagi. Bagian dalamnya adalah tempat kasir yang mungkin juga digunakan untuk ruang tamu bagi Melody. Dan seluruh ruangan di rumah Melody ini dipenuhi bunga.
"Dav..kamu baik-baik aja kan?", Melody kembali memanggilku, membuat aku membuyarkan kekagumanku pada bunga-bunga ini.
"Eh..em..iya kok. Aku cuma kagum aja, Mel. Bunganya banyak banget ya. Bagus bagus loh."
"Iya lah, Dav. Ini kan toko bunga."
"Emm...kamu menanam sendiri semua bunga-bunga ini?"
"Iya. Aku menanamnya di halaman belakang. Kebetulan di halaman belakang cukup luas tempatnya. Daripada mubazir kan?" Melody tersenyum manis sambil menarik tanganku menuju halaman belakang.
Saat aku memasuki halaman belakang milik Melody, aku terpukau dengan semua ini. Sungguh indah sekali pemandangan di halaman belakang rumah Melody ini. Rumahnya yang tadinya kukira sempit ternyata bagian belakangnya sangat luas. Ada berbagai macam bunga yang indah-indah dan ini terlihat seperti taman bunga kecil.
"Wow, Mel...ini indaaah sekalii...!"
"Benarkah? Kamu bisa ambil beberapa bunga yang kamu mau kalau kamu suka."
"Betul, Mel...boleh? Yay! Kalau begitu aku mau mawar merah ini ya buat mamaku. Gratis nih?"
"Tentu. Sini biar aku bungkuskan ya."
"Thanks, ya Mel."
Melody sangat baik. Dia tak pernah pelit padaku. Aku juga senang bisa berteman dengannya. Sejak saat itu setelah pulang sekolah aku sering main ke rumah Melody. Kami pun akhirnya menjadi sahabat. Melody adalah sahabat yang baik dan tulus. Dia tidak seperti teman-temanku yang lainnya, yang bersahabat denganku hanya karena aku kaya, cantik dan populer. Melody berbeda, dia tulus sayang padaku. Aku senang akhirnya aku bisa mendapatkan sahabat seperti Melody, selain itu kekurangan yang dimiliki Melody membuatku tersadar akan sesuatu. Yahh....selama ini aku selalu merasa kekurangan. Entah apa yang kurang, mungkin aku kurang mendapat ketulusan dari seorang sahabat seperti Melody, dan sekarang aku mendapatkannya. Tanpa kusadari selama ini rasa kekurangan itu membuat aku kurang bersyukur kepada Tuhan. Aku sehat, aku normal, aku bisa melihat dunia, tidak seperti Melody yang harus menjadi gadis buta, kehilangan masa depannya, tidak bisa bersekolah. Tuhan...maafkan aku karena selama ini aku tidak pernah bersyukur. Terimakasih Melody, kamu telah membuatku sadar.
*****
Kebutaan yang dialami Melody, sahabatku itu, membuatku sedih. Aku ingin Melody bisa melihat kembali. Akhirnya, akupun menanyakan hal ini pada papa. Papa bilang Melody mungkin bisa disembuhkan dengan donor kornea, aku pun berniat membiayai Melody untuk melakukan donor kornea, oleh karena itu pada suatu sore, aku menanyakan persetujuan Melody tentang hal ini.
"Mel.. Aku boleh nanya sesuatu?"
"Boleh dong, Dav, mau nanya apa?"
"Emm...memang gimana sih sampai kamu bisa seperti sekarang ini?"
"Maksud kamu mataku ini?"
"Ya?"
Melody menghela napas panjang dan mulai bercerita. "Dulu, saat aku berumur 7 tahun, aku, mama, papa, dan adikku yang berumur 5 tahun pergi ke puncak mengendarai mobil. Saat itu hujan deras sekali, jalanan puncak yang berkelok-kelok menjadi licin. Lalu tanpa papaku sadari, ada sebuah truk, dimana pengemudinya sedang mabuk berat, truk itu pun menghantam mobil papaku sampai masuk jurang. Saat itu terjadi aku tidak ingat apa-apa, yang aku ingat aku sudah berada di rumah sakit dan mataku diperban karena mataku terkena pecahan kaca mobil waktu itu."
Melody menghela napas kembali dan raut wajahnnya menjadi muram. "Saat tiba perban dibuka, aku tidak bisa melihat apa-apa. Semuanya gelap. Sejak saat itu aku buta. Kecelakaan itu juga merenggut nyawa papa dan adikku, serta membuat mamaku lumpuh."
Aku tertegun mendengar cerita Melody. Begitu nahas nasib keluarganya. Sedangkan aku? Aku punya kedua orang tua yang masih hidup dan sangat sayang padaku. Tuhan....betapa bodohnya aku selama ini tidak menyadari betapa lengkapnya hidupku.
"Em...Mel..sorry ya aku gak bermaksud menguak luka lama kamu."
"Iya gak apa-apa kok, Dav. Aku sudah iklas menerima semua ini."
"Mel, kamu mau nggak bisa melihat lagi?"
"Tentu aja aku mau banget, Dav. Tapi itu gak mungkin kan?"
"Kenapa gak mungkin? Kamu bisa menjalani operasi cangkok kornea. Aku sudah bicarakan ini sama papaku dan papaku bersedia menghubungi dokter kenalannya dan mencarikan donor bagi kamu."
"Aku sudah lelah, Dav, sudah dua kali aku menjalani operasi tapi semuamya gagal dan lagipula aku sudah tidak punya biaya."
"Enggak, Mel. Kali ini pasti berhasil. Percaya deh sama aku. Soal biaya kamu gak usah mikirin itu. Biar aku yang urus. Mau ya? Please! Setidaknya lakukan ini demi aku!"
"Oke. Aku akan lakukan ini demi kamu dan mamaku."
*****
Setelah menerima kabar dari Melody via telepon bahwa hari itu ibunya Melody meninggal dunia, aku segera menyetir mobil Honda Jazz Pink-ku sendiri menuju rumah sakit dalam kecepatan tinggi. Kata Melody sebagai permintaan terakhir, ibunya Melody meminta agar kornea matanya diberikan kepada Melody. Saat di tikungan, tiba-tiba ada sebuah van hitam yang menabrakku. Saat itu, mobilku terperosok ke trotoar dan menabrak pohon beringin. Dan setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi....
Bagaimanakah nasib Davina?? apakah ia akan selamat?? apa yang terjadi selanjutnya??
TUNGGU KELANJUTAN KISAHNYA DI EPS.03....
BY:ARINA A. PUTRI