My Diary for Cassanova
"My Brain, My Heart, My Tongues Said Him"
Prinsipku. Aku sudah melepasnya. Aku sudah meninggalkannya. Aku telah berkeputusan, aku tak tau resiko apa yang akan kudapat. Yah! Aku sudah melepas prinsipku demi dia. Aku tak peduli... Rasa takutku sudah buta oleh cintaku padanya. Tapi satu prinsip baru datang di hatiku. Aku Tak Mau Menjadi Bekas. Aku yakin dengan dirinya. Aku yakin kami akan bahagia.
Masuk SMA,
Sangat membahagiakan untukku. Harapan-harapan baru muncul. Aku ingin memperbaiki diriku, sukses bersamanya. Semakin hari, aku semakin mencintainya. Di mataku tak pernah ada sosok yang terbaik selain Pangeranku itu. Tiap detik, layunya kelopak mawar, tak kupedulikan. Aku ingin bersamanya. Aku juga ingin maju di pelajaranku. Bantu aku, Tuhan!
Di Cassanova,
Cassanova...
Kelas X-1, kelas baruku...Ini adalah kelas kebanggaanku, tempuan harapan-harapanku...Aku masuk kesini demi kemajuan nilaiku. Tapi kenapa? Aku tak bisa melepaskan setitik waktuku tanpa memikirkannya? Aku tak bisa...!!!
UTS gone...
Nilaiku hancur...!!! Aku capek...Pacaran untuk maju cuma omong kosong!! Baru aku sadari, aku hidup tidak makan cinta, aku tidak bisa membedakan waktu. Aku tidak sama seperti dulu. Aku ingin seperti dulu. Aku menyesal!! Apa?? Menyesal? Bukankah ketika aku menyesal berarti aku salah langkah? Apa aku harus melepasnya untuk menjadi diriku yang dulu...?
Melepasmu...
Aku emosi, aku kalap, aku khilaf!! Maafkan aku!! Aku menyakitimu, aku salah...Tapi percayalah demi kita!
Tak kuat aku melepasnya...Aku semakin tidak konsentrasi. Aku terus memikirkannnya. Perasaan bersalah dan kehilangan semangat semakin menjadi-jadi. Aku salah langkah lagi, aku tak bisa seperti dulu. Aku semakin hancur, Aku tidak kuat menopang tubuh...
Balikan,
Aku mengajaknya balikan. Pangeranku menolaknya! Dian tidak mau. Aku parah! Aku hancur! Aku pengecut! Mungkin aku lebay, tapi ketika otakku menyuruhku untuk berhenti memikirkannnya, hatiku tak bisa... Mungkin otak adalah pengendali tubuhku, tapi rohku berpusat pada nurani. Nurani yang katanya ada di dalam hati yang paling dalam... Dan sekarang aku hanya memerlukan nutrisi hati. Dia... Dia yang kuinginkan! Tapi dia tak mau lagi menjadi stabilizer bagiku. Prinsipku satu-satunya adalah untuk tidak mau menjadi bekas, kini telah berakhir berantonim.
Hal-hal yang kupikir akan mengembalikannya terus kulakukan. Tapi tak pernah berhasil, karena kusadari, komitmennya untuk menyetujui permintaanku karena keinginannya untuk bersamaku kelak....
Aku ini bodoh, kenapa aku tak mau mendengarkannya dan berpikir positif... Kenapa aku tidak kasihan pada sahabat-sahabatku yang selalu takut kalau aku akan berbuat nekat...?!! Aku ini jahat?
Tapi, aku kini sadar...Aku akan maju, bukan demi aku sendiri, tapi juga demi arek-arek dan si dia.... Kini yang harus aku terapkan. Aku harus mencintainya karena Allah...Akan selalu kucoba dan kuterapkan. Aku tahu, teman-temanku akan membantuku....
By: Lizara Yulia Nurfida(Absen 20)