Kisah ini kutulis
setahun setelah adikku meninggal, tepat di hari ulang tahunnya yang ke-17.
Masih tak bisa kulupa kata-kata manisnya, dengan penuh semangat dirinya
berucap,"Aku pasti sembuh, Terong, kamu jangan sedih begitu ya. Senyum
dong!". Kata-kata itu yang selalu diucapkannya berulang kali dengan penuh
semangat dan optimis. Aku memang senang melihatnya semangat seperti itu dalam
menghadapi penyakitnya, tapi ada rasa miris dalam hatiku. Tak tega diriku
setiap kali kulihat wajahnya yang tersenyum, tersenyum penuh duka dan
penderitaan.
Adikku bernama Tiara, tapi aku biasa memanggilnya dengan
sebutan "Tomat", karena pipinya yang chubby dan berwarna kemerah-merahan ketika dia tersenyum. Persis
sekali seperti tomat rebus. Dan sebaliknya, dia memanggilku dengan sebutan
"Terong", karena Tiara benci sekali dengan terong, maka dia pun
memanggilku begitu.
"Kamu benci sama terong, tapi kok manggil kakak
terong sih? Berarti kamu benci sama kakak? Tega kamu!"
"Yee...bukan gituu..emang sih aku benci sama terong,
tapi kan benci sama cinta bedanya tipis. Hahaha."
"Huh! Dasar kamu yaa!!!"
Begitulah mengapa dia memanggilku dengan sebutan itu, tak
lain adalah karena dia menyayangiku, sama seperti aku menyayanginya. Ya. Aku
begitu menyayanginya melebihi apapun. Walaupun sebenarnya dia bukan adik
kandungku.
Dulu, ibuku memiliki masa lalu yang kelam. Aku adalah anak hasil hubungan diluar
nikah antara ibuku dengan pacarnya. Tapi, pacar ibuku itu tidak mau bertanggung
jawab, sampai akhirnya ibuku menanggung malu karena ibuku hamil diluar nikah.
Lalu, ibuku bertemu dengan ayahku, yang kini menjadi ayah tiriku. Ayah tiriku
ini begitu mencintai ibuku, sampai akhirnya beliau mau menikahi ibuku yang
sudah dalam keadaan hamil anak orang lain. Tapi ayah tiriku ini tetap mau
menerima ibuku, beliau juga begitu menyayangiku sama seperti beliau menyayangi
Tiara.
Tiara juga bukan anak kandung ibuku dan ayah tiriku.
Ibuku menemukan Tiara kecil dalam sebuah keranjang bayi di depan rumah kami.
Lalu ibuku dan ayah tiriku mengasuhnya hingga sekarang ini. Sampai sekarang,
kami tidak pernah tahu siapa orang tua kandung Tiara. Tapi, kami sudah mengubur
dalam-dalam semua kejadian pahit masa lalu itu. Kami tidak pernah
mengungkit-ungkitnya lagi. Biarlah hal ini menjadi rahasia yang tidak akan
pernah diketahui Tiara.
Kini, kami berempat hidup bahagia sebagai suatu keluarga
yang utuh. Tapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama, ketika kami mendengar
kabar bahwa Tiara tiba-tiba jatuh pingsan saat upacara bendera di sekolahnya.
Kami sungguh panik dan terkejut mendengarnya, karena Tiara itu sebenarnya anak
yang kuat. Belum pernah ia pingsan seperti ini. Keterkejutan kami inilah awal
mulanya kami tahu bahwa ternyata Tiara mengidap penyakit yang cukup kronis.
Yang membuatku menyesali kebodohanku sebagai seorang kakak yang buruk.
Bagaimana aku bisa tidak tahu kalau adikku sedang sakit parah. Lambat laun aku
tahu, bahwa ternyata sudah lama Tiara menyembunyikan hal ini dari kami.
#Cerpen Baru By:Arina A. Putri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar