Sabtu, 26 Mei 2012

Cerpen "Aku Masih Punya 17 Hari" part 1

         Kisah ini kutulis setahun setelah adikku meninggal, tepat di hari ulang tahunnya yang ke-17. Masih tak bisa kulupa kata-kata manisnya, dengan penuh semangat dirinya berucap,"Aku pasti sembuh, Terong, kamu jangan sedih begitu ya. Senyum dong!". Kata-kata itu yang selalu diucapkannya berulang kali dengan penuh semangat dan optimis. Aku memang senang melihatnya semangat seperti itu dalam menghadapi penyakitnya, tapi ada rasa miris dalam hatiku. Tak tega diriku setiap kali kulihat wajahnya yang tersenyum, tersenyum penuh duka dan penderitaan.
            Adikku bernama Tiara, tapi aku biasa memanggilnya dengan sebutan "Tomat", karena pipinya yang chubby dan berwarna kemerah-merahan ketika dia tersenyum. Persis sekali seperti tomat rebus. Dan sebaliknya, dia memanggilku dengan sebutan "Terong", karena Tiara benci sekali dengan terong, maka dia pun memanggilku begitu.
            "Kamu benci sama terong, tapi kok manggil kakak terong sih? Berarti kamu benci sama kakak? Tega kamu!"
            "Yee...bukan gituu..emang sih aku benci sama terong, tapi kan benci sama cinta bedanya tipis. Hahaha."
            "Huh! Dasar kamu yaa!!!"
            Begitulah mengapa dia memanggilku dengan sebutan itu, tak lain adalah karena dia menyayangiku, sama seperti aku menyayanginya. Ya. Aku begitu menyayanginya melebihi apapun. Walaupun sebenarnya dia bukan adik kandungku.
            Dulu, ibuku memiliki masa lalu yang  kelam. Aku adalah anak hasil hubungan diluar nikah antara ibuku dengan pacarnya. Tapi, pacar ibuku itu tidak mau bertanggung jawab, sampai akhirnya ibuku menanggung malu karena ibuku hamil diluar nikah. Lalu, ibuku bertemu dengan ayahku, yang kini menjadi ayah tiriku. Ayah tiriku ini begitu mencintai ibuku, sampai akhirnya beliau mau menikahi ibuku yang sudah dalam keadaan hamil anak orang lain. Tapi ayah tiriku ini tetap mau menerima ibuku, beliau juga begitu menyayangiku sama seperti beliau menyayangi Tiara.
            Tiara juga bukan anak kandung ibuku dan ayah tiriku. Ibuku menemukan Tiara kecil dalam sebuah keranjang bayi di depan rumah kami. Lalu ibuku dan ayah tiriku mengasuhnya hingga sekarang ini. Sampai sekarang, kami tidak pernah tahu siapa orang tua kandung Tiara. Tapi, kami sudah mengubur dalam-dalam semua kejadian pahit masa lalu itu. Kami tidak pernah mengungkit-ungkitnya lagi. Biarlah hal ini menjadi rahasia yang tidak akan pernah diketahui Tiara.
            Kini, kami berempat hidup bahagia sebagai suatu keluarga yang utuh. Tapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama, ketika kami mendengar kabar bahwa Tiara tiba-tiba jatuh pingsan saat upacara bendera di sekolahnya. Kami sungguh panik dan terkejut mendengarnya, karena Tiara itu sebenarnya anak yang kuat. Belum pernah ia pingsan seperti ini. Keterkejutan kami inilah awal mulanya kami tahu bahwa ternyata Tiara mengidap penyakit yang cukup kronis. Yang membuatku menyesali kebodohanku sebagai seorang kakak yang buruk. Bagaimana aku bisa tidak tahu kalau adikku sedang sakit parah. Lambat laun aku tahu, bahwa ternyata sudah lama Tiara menyembunyikan hal ini dari kami.

#Cerpen Baru By:Arina A. Putri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar